“Sebuah forum yang membahas tentang
rasa dan empati.
Menguatkan kepekaan akan sekitar
sehingga menjadi lebih memerhatikan bukan sekedar melihat.
Tidak ada yang salah tidak ada yang
benar, hanya saling berbagi dan bertikar fikiran antar sifat yang berbeda
ataupun sama.
Sebagai seorang desainer, kepekaan
akan khalayak sasar adalah segalanya guna keefektifan desain yang diciptakan.”
-Speterbet yang lama

Speterbet, spele ternyata ribet.
Bagaimana awalnya bisa kepikiran?
Begini ceritanya ahahaha
Jadi pada malam itu, lupa tanggal
tepatnya tapi itu yang pastinya akhir 2015.
Saat itu lagi ngumpul untuk ngurusin
inagurasi anak-anak angkatan 2015, di belakang keong pastinya seperti biasa.
Pas lagi duduk sendiri gitu tau-tau ada 3 orang datang ke tempat aku duduk, 3
orang, Ridho Mahesa, Haikal, dan satu lagi lupa wkwkw. Tiba-tiba duduk
ngelilingi aku gitu di kiri kanan dan depan terus tau-tau ngobrol aja bertiga.
Mereka membahas soal “Rasa”. Rasa?
Iya,”Rasa itu adalah sesuatu hal yang ga
bisa dijelaskan, tapi dapat dirasakan, idiih, gimana ya bilangnya”,
kira-kira begitu kata Haikal. Pada saat itu otakku mulai merasakan sesuatu yang
asik. Iya, merasakan wkwkw. Mereka bertiga membahas
tentang,”Rasa”.

Lalu perbincangan mereka berlanjut ke
membahas tentang rasa dalam kata “Gawang”.
Ya, seperti yang di artikel sebelumnya, perbedaan rasa dalam mengatakan “Gawang”, “Gauang”, dan “Gauwang”.
Begitu juga perbedaan rasa dalam mengatakan “Lubang” dan “Lobang”,
atau “Loubang”? Namun pada saat
seru-serunya sedang membahas soal rasa pada kata itu, tau-tau kami disuruh diem
karena anak-anak 15 nya lagi harus fokus dan harus serius wkwkwkw. Mereka
bilang tiap hari Rabu malam kalo ga salah depan ex-perpus TCIS mereka bakal
ngumpul membahas seperti-seperti itu. Tapi aku gapernah dateng wkwkw gatau juga
itu mereka berlanjut apa engga.
Karena aku ga pernah datang, jadilah
pada sekitar bulan Januari 2016 yang kebetulan aku lagi megang jabatan di
IMAGI, aku buat lah proker yang pembahasannya mirip-mirip itu dengan niat
menyebarkan info kalo “Perkumpulan
Berfikir Seperti Ini Ada Loh!”. Dan ingat pula untuk memberi tahu mereka
soal ini. Bahkan saat poster perdananya disebar di Official LINE-nya IMAGI
proker ini mendapat dukungan dari salah satu dosen di kampus kami.

Proker ini perdana jalan saat
masa-masanya calon Cucunguks IMAGI keliling nyari tanda tangan dalam rangka IMAGITHING.
Seharusnya berlangsungnya itu di Danau Galau, tapi karena kemaren lagi ramenya
di Kopeace (salah satu tempat keren
di Telkom University, engga ding, tempat paling keren tepatnya), jadilah aku di
Kopeace aja jalanin proker ini.
Pembahasan perdananya adalah “Empati pada Benda Mati”.
Apa yang dibahas? Empati. Kepada? Benda mati. Empati, merasakan apa yang dirasakan pihak lain.
Merasakan bila menjadi pihak lain. Empati pada benda mati. Pernah kah kamu
merasakan rasanya menjadi hak sepatu wanita yang gemuk? Pernah kah kamu
merasakan rasanya menjadi samsak tinju? Pernah kah kamu merasakan menjadi api
yang ganas membakar rumah-rumah?
Ya, seru sekali, beragam jawaban
dihasilkan oleh anak-anak calon Cucunguks IMAGI ini. Lalu muncul pertanyaan, buat apa? Buat apa merasakan apa yang
dirasakan benda mati? Seperti guna Speterbet ini sendiri, menguatkan kepekaan. Biar semakin peka. Menguatkan kepekaan akan
rasa dan menambah referensi liar. Sebagai
seorang desainer, itu semua untuk apa? Untuk
menciptakan hasil karya desain atau seni yang lebih kaya akan konsep. Dan humor. Humor membuat kita tertawa, tertawa membuat kita sehat.

Lalu Speterbet berikutnya cukup
membosankan ya menurutku, ini
pertemuan massal pertamanya. Pertemuan di Danau Galau atau kalo sekarang
namanya Situ Techno, Telkom University. Pembahasannya bebas, apa yang dilihat, itu yang dibahas.
Mencoba memahami mimik wajah gerak gerik masyarakat sekitar. Namun sayang, yang
terjadi malah menjadi seperti bergosip ria. Yhaaa gosip, “mulut bungkam aib terungkap, pasang senyum tapi kau nguap, bertingkah
bagai malaikat tapi nekat”. Kalo gatau lirik itu berarti kamu anak baru,
kids era now wkwkwk.
Pertemuan perdana ini sebenarnya bisa
dibilang rame, rame banget malah. Nah, di rame banget ini lah masalahnya.
Pesannya jadi ga tersampaikan total. Sayang sekali sih. Terus sebagai acara
perdana jadi masih pada bingung gitu juga kan. Ya, semoga 2 artikel pengenalan SPETERBET ini bisa membantu ya.

Lalu di pertemuan selanjutnya itu
membahas tentang “Sakit”. Sakit?
Apakah perlu terasa? Apakah tidak perlu? Apakah lebih asyik bila ditahan-tahan
atau malah akan menjadi petaka? Ya, pembahasan pada pertemuan ini tentang
“Sakit”, mungkin akan kubahas ulang di Lubang Tikus ini suatu hari nanti. Pada
pertemuan ini yang datang hanya bertiga, aku, Ifa, dan Niken Kharisma.
Pembahasannya cukup menjadi awkward ya sebenarnya karena kurangnya feedback,
kurangnya berbagi informasinya, berbagi opininya wkwkw tapi gapapa namanya juga
belom pada paham kan. Makanya semoga (lagi lagi) 2 artikel pengenalan SPETERBET ini dapat membantu ya!

Laluuuuu, Speterbet berhenti. Tidak berlanjut lagi karena akunya juga ga
sempet. Udah bentrok di jadwal kuliah. Nah, di Lubang Tikus ini lah aku mau
menghidupkan kembali forum berbagi opini ini. Bila nantinya IMAGI meneruskan
kembali prokernya, alhamdulillah, berarti ada forum luringnya, ga daring aja di
sini. Semoga kita semua dapat menjadi semakin peka dan semakin bisa
menghasilkan karya yang penuh makna. Dan pastinya, menjadi orang yang
memberikan energi positif, memberikan kebaikan ke masyarakat, aamiin.
Oh ya, dulu SPETERBET ini diadakan
setiap hari Kamis sekitar pukul 16.00 di Situ Techno alias Danau Galau, Telkom
University. Dan artikel ini, kembali dilahirkan, seperti dahulunya diadakan
tiap minggunya. Iya, pada hari Kamis pukul 16.00.
Speterbet,
spele ternyata ribet.
Sampai bertemu di diskusi kita nanti.

No comments:
Post a Comment