“Ingin memperbaiki desain di
tempat asal saya, Kota Medan”.
Yap, itu salah satu cita-cita aing, urang, aku, saya. Kata memperbaiki di sini lebih bermaksud ke
edukasi desain. Agar masyarakat, terutama para pemuda pemudi, lebih menghargai
seni dan desain. Pemahaman seni dan desain di Kota Medan masih sangat minim, ya
termasuk aku sendiri juga masih minim. Makanya ini masih belajar ya kan biar nanti
bisa jadi nyata mimpi dan imajinasi ini.
Allrait-allrait, cukup sudah kata pengantar nya
(eak macem betol aja, biasa gak sepanjang itu padahal ye kan). Pembahasan kali
ini akan membahas salah satu missioner
pembangkit semangat seni dan desain di kota Medan yang di mana mereka
sepertinya lahir di permukaan bumi di Pebruari ke-14 di tahun 2014 (kuliat di
facebook sih postingan pertama nya tanggal segitu), dengan berfokus di
pembuatan komik humor nya dengan konsep komik strip, Digidoy
Komik.

Yang pertama kita bahas, Apa itu DIGIDOY?
CEO yang merangkum Founder DIGIDOY, M. Arief Siregar,
berkata,”Digidoy itu adalah karakter
komik yang pengennya sih kita karakter yang menangkat Medan, mengangkat
karakter jiwa-jiwa Medan, anak muda Medan, perilaku Medan, semua tentang Medan,
berbau Medan, bahasa-bahasa Medan”.
Kalo kata Co-Founder yang juga merangkum
Komikus DIGIDOY, Dody Pratama,”Komik yang mengangkat perilaku dan
karakteristik (masyarakat) kota Medan”
Jadi Digidoy ini
dibuat bertujuan memperkenalkan semua yang berbau Medan dengan media yang saat
ini sangat mengena ke anak muda, komik strip dan sosial media. Dengan misi
khusus “Me-Medan-kan Dunia”.
Awal mula Arief Siregar ini membuat usaha
kreatif nya yang bernama Digipro Creative,
dari nama tersebut lah diambil nama Digi
dan logo usaha nya tersebut dijadikannya salah satu karakter dari komik
tersebut.


Oke kita masuk ke History In The Story (halah)
Jadi ceritanya itu Digi, makhluk asing berbentuk telur mendarat di bumi dan bertemu
dengan seorang pemuda, anak Medan, slengean,
ceroboh, dan suka galau yang bernama Doy.
Awal mulanya Digi berkata bahwa kaum nya sudah berada di seluruh dunia untuk
menjalankan misi nya yang masih rahasia, tidak diberitahukan ke Doy. Nah di
sini lah awal mula pertemanan antara Digi dan Doy membawa cerita tentang kota Medan.
Itu dia sejarah bertemunya Doy dan Digi

Digi

Doy
Awalnya untuk tokoh tambahan mereka banyak
kolaborasi dengan penghobi gambar lainnya. Namun pada Desember ke-30 di tahun
2014 muncul lah perdana 2 tokoh baru walau hanya tampak belakang. Mereka adalah
si Dev, seorang ahli IT, dan Coki, anak kampung yang merantau ke
Medan. Bertambah nya 2 karakter ini sangat
membantu cerita Digidoy ini.

Bang Dev

Coki
Allrait allrait allrait, untuk soal cerita dan
gambar nya bisa kalian lihat melalui fanpage di facebook nya DIGIDOY KOMIK, atau lebih enaknya dari
akun instagram @digidoy. Eits, sabar, jangan langsung cus, baca aja dulu, nanti di ending postingan ada link nya kok.
Opini, sebagai penggiat desain grafis
asal Medan aku sih seneng kali lah pas muncul komik yang rapi (gak norak) gini
dari Medan ahaha. Yah untuk awal-awal gambarnya memang gak rapi sih, tapi ga
masalah, kan jam terbang membuat hasil
semakin baik, dan terbukti, kini gambar nya udah jauh lebih baik dari pada
dulu. Dapat dilihat dari 2 perbedaan gaya gambar yang dulu sama sekarang ini.
Yang Lama
detail belom maen di sini men
Yang Baru
di sini layout uda oke yakan, uda diwarnain lagi ahaha
ini versi monochrome, tetep uda oke daripada yg versi lama kan?
Untuk yang katanya mau mengangkat karakter
Medan sih pada awal-awalnya aku kurang suka sama komik ini. Soal nya bahasa
yang dipake itu kurang Medan, dan terbaca memaksa.
Maksudnya memaksa itu jadi bahasa yang digunain macem di-Medan-Medan-kan. Dan aku gak sukak yang sok Medan gitu ahaha.
Tapi yang macem gambar tadi, jam terbang
yang membuat hasil semakin baik, terbukti juga, sekarang bahasa yang
digunakan udah lebih enak dibaca, gak maksa, dan udah Medan Kali Bah.
Yang Lama
orang Medan gaadak pake "kale/kali" sebagai kata ganti "meureun/mungkin" macem orang di pulau Jawa sana. Orang Medan pake kata "kali" cuma jadi kata ganti "Sekali/Banget/Sangat"
di sini belom pake bahasa Medan, masih pake bahasa komik ahaha
Yang Baru
yak, yang sekarang udah bener-bener bisa membuat orang Medan yang di luar Sumatera nostalgia dengan bahasa Medan ahaha
“Karena
belom ada yang mengangkat komik tentang Medan. Mungkin sebelumnya ada tapi
tidak terlalu naik ke permukaan. Jadi sekarang ini kita coba naikkan lagi lah
komikus-komikus Medan yang ada pada saat sekarang ini”
“Industri
Kreatif di Indonesia, biasa berbau jawa (pulau jawa). Kita pengennya naikkan
Medan”
“Pengennya
bisa merangkul komikus-komikus Medan”
Kutipan-kutipan di atas tadi kutipan dari
kalimat-kalimat yang terlontar dari sang CEO dan Founder Digidoy, M. Arief
Siregar, yang mana semua kalimat tersebut sangat membuatku senang ahahahaha membuat
senang aku yaa. Kenapa? Karena balik ke awal tadi. Semua visi dan misi Arief
Siregar tersebut sangat berhubungan dengan impian dan imajinasiku, dan aku pun
berharap Digidoy Komik ini bener-bener tetap
fokus dan berinovasi. Strategi
kreatif untuk menaikkan nama Digidoy Komik terus dirancang dan dijalankan, biar naek teros ya kan, bukan
Digidoy Komik nya aja, tapi SDM di kota
Medan nya juga. Terutama untuk para pemuda pemudi nya. Maju terus komik Indonesia, Ayo bangkit pemuda pemudi kota Medan,
apresisasikan seni dan desain di kota mu, jangan keras kepala, banyak belajar!

Nih fan art dari @peevestherat wkwk

Sumber informasi:
dan
Situs Resmi Digidoy Komik:


















Keren, selamat ya kak sukses terus
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteMantap info nya gan
ReplyDelete