Monday, 15 June 2015

DIGIDOY
Dengan Komik, Kita Medan-kan Dunia!


Ingin memperbaiki desain di tempat asal saya, Kota Medan.
Yap, itu salah satu cita-cita aing, urang, aku, saya. Kata memperbaiki di sini lebih bermaksud ke edukasi desain. Agar masyarakat, terutama para pemuda pemudi, lebih menghargai seni dan desain. Pemahaman seni dan desain di Kota Medan masih sangat minim, ya termasuk aku sendiri juga masih minim. Makanya ini masih belajar ya kan biar nanti bisa jadi nyata mimpi dan imajinasi ini.


Allrait-allrait, cukup sudah kata pengantar nya (eak macem betol aja, biasa gak sepanjang itu padahal ye kan). Pembahasan kali ini akan membahas salah satu missioner pembangkit semangat seni dan desain di kota Medan yang di mana mereka sepertinya lahir di permukaan bumi di Pebruari ke-14 di tahun 2014 (kuliat di facebook sih postingan pertama nya tanggal segitu), dengan berfokus di pembuatan komik humor nya dengan konsep komik strip, Digidoy Komik.










Yang pertama kita bahas, apa itu DIGIDOY?


CEO yang merangkum Founder DIGIDOY, M. Arief Siregar, berkata,”Digidoy itu adalah karakter komik yang pengennya sih kita karakter yang menangkat Medan, mengangkat karakter jiwa-jiwa Medan, anak muda Medan, perilaku Medan, semua tentang Medan, berbau Medan, bahasa-bahasa Medan”.


Kalo kata Co-Founder yang juga merangkum Komikus DIGIDOY, Dody Pratama,”Komik yang mengangkat perilaku dan karakteristik (masyarakat) kota Medan



Jadi Digidoy ini dibuat bertujuan memperkenalkan semua yang berbau Medan dengan media yang saat ini sangat mengena ke anak muda, komik strip dan sosial media. Dengan misi khusus “Me-Medan-kan Dunia”.




Awal mula Arief Siregar ini membuat usaha kreatif nya yang bernama Digipro Creative, dari nama tersebut lah diambil nama Digi dan logo usaha nya tersebut dijadikannya salah satu karakter dari komik tersebut.










Oke kita masuk ke History In The Story (halah)


Jadi ceritanya itu Digi, makhluk asing berbentuk telur mendarat di bumi dan bertemu dengan seorang pemuda, anak Medan, slengean, ceroboh, dan suka galau yang bernama Doy. Awal mulanya Digi berkata bahwa kaum nya sudah berada di seluruh dunia untuk menjalankan misi nya yang masih rahasia, tidak diberitahukan ke Doy. Nah di sini lah awal mula pertemanan antara Digi dan Doy membawa cerita tentang kota Medan.




 Itu dia sejarah bertemunya Doy dan Digi 




 Digi 


 Doy 




Awalnya untuk tokoh tambahan mereka banyak kolaborasi dengan penghobi gambar lainnya. Namun pada Desember ke-30 di tahun 2014 muncul lah perdana 2 tokoh baru walau hanya tampak belakang. Mereka adalah si Dev, seorang ahli IT, dan Coki, anak kampung yang merantau ke Medan. Bertambah nya 2 karakter ini sangat membantu cerita Digidoy ini.



 Bang Dev 


 Coki 






Allrait allrait allrait, untuk soal cerita dan gambar nya bisa kalian lihat melalui fanpage di facebook nya DIGIDOY KOMIK, atau lebih enaknya dari akun instagram @digidoy. Eits, sabar, jangan langsung cus, baca aja dulu, nanti di ending postingan ada link nya kok.




Opini, sebagai penggiat desain grafis asal Medan aku sih seneng kali lah pas muncul komik yang rapi (gak norak) gini dari Medan ahaha. Yah untuk awal-awal gambarnya memang gak rapi sih, tapi ga masalah, kan jam terbang membuat hasil semakin baik, dan terbukti, kini gambar nya udah jauh lebih baik dari pada dulu. Dapat dilihat dari 2 perbedaan gaya gambar yang dulu sama sekarang ini.



 Yang Lama 
 detail belom maen di sini men 


  
  Yang Baru  


 di sini layout uda oke yakan, uda diwarnain lagi ahaha 

 ini versi monochrome, tetep uda oke daripada yg versi lama kan? 




Untuk yang katanya mau mengangkat karakter Medan sih pada awal-awalnya aku kurang suka sama komik ini. Soal nya bahasa yang dipake itu kurang Medan, dan terbaca memaksa. Maksudnya memaksa itu jadi bahasa yang digunain macem di-Medan-Medan-kan. Dan aku gak sukak yang sok Medan gitu ahaha. Tapi yang macem gambar tadi, jam terbang yang membuat hasil semakin baik, terbukti juga, sekarang bahasa yang digunakan udah lebih enak dibaca, gak maksa, dan udah Medan Kali Bah.



 Yang Lama 

 orang Medan gaadak pake "kale/kali" sebagai kata ganti "meureun/mungkin" macem orang di pulau Jawa sana. Orang Medan pake kata "kali" cuma jadi kata ganti "Sekali/Banget/Sangat" 

 di sini belom pake bahasa Medan, masih pake bahasa komik ahaha 



   Yang Baru  


 yak, yang sekarang udah bener-bener bisa membuat orang Medan yang di luar Sumatera nostalgia dengan bahasa Medan ahaha 





Karena belom ada yang mengangkat komik tentang Medan. Mungkin sebelumnya ada tapi tidak terlalu naik ke permukaan. Jadi sekarang ini kita coba naikkan lagi lah komikus-komikus Medan yang ada pada saat sekarang ini




Industri Kreatif di Indonesia, biasa berbau jawa (pulau jawa). Kita pengennya naikkan Medan




Pengennya bisa merangkul komikus-komikus Medan




Kutipan-kutipan di atas tadi kutipan dari kalimat-kalimat yang terlontar dari sang CEO dan Founder Digidoy, M. Arief Siregar, yang mana semua kalimat tersebut sangat membuatku senang ahahahaha membuat senang aku yaa. Kenapa? Karena balik ke awal tadi. Semua visi dan misi Arief Siregar tersebut sangat berhubungan dengan impian dan imajinasiku, dan aku pun berharap Digidoy Komik ini bener-bener tetap fokus dan berinovasi. Strategi kreatif untuk menaikkan nama Digidoy Komik terus dirancang dan dijalankan, biar naek teros ya kan, bukan Digidoy Komik nya aja, tapi SDM di kota Medan nya juga. Terutama untuk para pemuda pemudi nya. Maju terus komik Indonesia, Ayo bangkit pemuda pemudi kota Medan, apresisasikan seni dan desain di kota mu, jangan keras kepala, banyak belajar!







Nih fan art dari @peevestherat wkwk






 Sumber informasi: 


https://www.youtube.com/results?search_query=digidoy+komik


 dan 
 Situs Resmi Digidoy Komik: 

https://www.facebook.com/digidoy




https://instagram.com/digidoy/

http://digidoy.com/

3 comments: